Sabtu, 12 September 2015

Omah Djadoel Blitar, hunting foto sekaligus belajar sejarah di Kota Blitar

Omah djadoel adalah salah satu destinasi jalan-jalan kita saat ke Blitar. Museum ini masih terbilang baru, jadi belum banyak yang tau, selain itu omah djadoel adalah milik perseorangan dssn dikelola secara individu oleh pemiliknya.



Isi museum ini adalah barang-barang antik dari indonesia maupun luar negeri, mostly sih dari cina. Selain foto-foto dengan barang antik, di sini kita juga diajari memainkan alat musik tradisional cina yang berbentuk seperti mangkuk keramik berukuran besar yang diisi dengan air. Serta belajar memainkan alat musik tradisional jawa. 




Alat musik tradisional cina, berfungsi untuk mengganggu konsentrasi musuh ketika perang. Tiap orang akan menghasilkan bunyi yang berbeda-beda sesuai aura yang ada pada dirinya

Semuanya langsung dibimbing oleh ibu yang punya museum yang merangkap sekaligus menjadi tour guide serta tukang foto. Kita gak perlu meminta tolong si ibu buat difotoin, justru beliau yang memaksa kita buat foto-foto, katanya sih kalau gak dibolehin foto-foto, museumnya pasti bakal kalah sama hiburan moderen di luar sana. Tapi ya kadang hasil fotonya gak sesuai dengan yang diharapkan, hehehe, peace bu museum! ^^v


Secara garis besar museum ini terbagi menjadi 3 bagian, bagian satu berupa rumah tradisional jawa yang berisi perabot antik yang super duper banyak mulai dari yang berukuran kecil banget sampe yang agak besar.




Bagian ke dua, adalah bagian samping yang digunakan untuk tempat parkir motor serta replika warung pada jaman dahulu. Di sisi kiri dan kanan dinding pada bagian ini terpasang beberapa gambar hasil cetakan modern yang gak ada antik-amtiknya, untuk ngeramein aja kali ya. Seperti backdrop dengan gambar sudut-sudut resto inggil di malang dan frame-frame kertas dengan gambar benda sejarah dll, yang mayan bikin alis berkerut. Buat apaaa?? Wkwk

Alif: Ma, yang nemuin mesin telepon siapa? | Mama: hah? Siapa? Apanya? Kenapa? 



Bagian ke tiga adalah bagian belakang yang terdiri dari dua buah bangunan semi terbuka yang isinya barang-barang antik berukuran besar dan beberapa barang yang saya perhatikan gak begitu antik atau umurnya gak terlalu tua, ya iyalah makanya ditaruh di luar. Ada juga beberapa koleksi alat musik tradisional indonesia seperti gamelan dan angklung.




Sekilas, museum ini mirip dengan roemah koffie tjap loe mien toe di Malang, bedanya yang di malang dijadikan cafe kalau di blitar dijadikan museum. Selain itu koleksinya lebih banyak di sini lah.


Lokasinya berada gak jauh dari makam bung karno, dari pintu depan makam bung karno yang dekat dengan perpustakaan terus aja sampai ketemu perempatan, terus belok kiri sampai ketemu pertigaan lagi, dan belok kiri lagi. Sekitar 25 meter dari pertigaan, museum omah djadoel ada di sebelah kiri jalan. Iya, lokasinya ada di tengah perkampungan penduduk.




Kata ibu yang punya museum, museum ini terancam digusur kalau sampai akhir september si ibu gak berhasil mendapat 2000 tanda tangan. Tapi kalau berhasil maka kepemilikan museum akan dipindahtangan menjadi milik pemerintah Blitar dan si ibu bisa tidur dengan tenang di rumah, karena percaya barang-barangnya berada di tangan yang tepat. Selain itu tiket masuknya bisa digratiskan oleh pemerintah. Semoga saja targetnya tercapai, Aamiin.


Saya melihat harapan yang besar di mata si ibu untuk memperkenalkan sejarah masa lampau pada generasi masa kini. Sampai beberapa kali dia meminta pada kami untuk mempromosikan museumnya di sosial media.

Pesan keluarga bahagia: Jalan-jalan itu ke museum, jangan ke tempat mesum.. krik krik krik

Btw, tiket masuknya 10.000 per orang. Dan tentunya tempat ini gak kids friendly, ati-ati aja kalau bawa anak yang aktifnya kebangetan, huehuehue.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Hai, terimakasih sudah berkunjung. Komentar boleh, Nyepam jangan, :)