Jumat, 02 September 2016

Menyiapkan Anak Untuk Bersaing Dalam Pasar Bebas


Seorang anak tak pernah meminta untuk dilahirkan, justru kita lah, para orang tua, yang memohon-mohon kehadiran mereka. Oleh karena itu ketika permohonan tersebut dikabulkan, kita patut bersyukur dan menjaga anak-anak kita dengan sebaik-baiknya. Karena di luar sana, banyak orang yang terkadang usahanya melampaui apa yang telah kita lakukan, namun belum juga bisa menyandang gelar orang tua.

Bentuk syukur atas hadirnya anak dalam hidup kita, tentu adalah dengan bertanggung jawab sepenuhnya atas hidup mereka. Dan tanggung jawab tersebut adalah dengan cara memenuhi hak-hak mereka.

Sedikitnya ada 10 hak anak yang wajib dipenuhi orang tua menurut Konvensi Hak Anak yang dilakukan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1989, antara lain.

  1. Hak untuk bermain,
  2. Hak untuk mendapatkan pendidikan,
  3. Hak untuk mendapatkan perlindungan,
  4. Hak untuk mendapatkan nama (identitas),
  5. Hak untuk mendapatkan status kebangsaan,
  6. Hak untuk mendapatkan makanan,
  7. Hak untuk mendapatkan askes kesehatan,
  8. Hak untuk mendapatkan rekreasi,
  9. Hak untuk mendapatkan kesamaan, dan
  10. Hak untuk berperan dalam pembangunan.

Di antara 10 hak yang harus dipenuhi orang tua di atas, bagi saya hak anak untuk mendapatkan pendidikan dan berperan dalam pembangunanlah yang paling sulit. Karena dua hal ini saling berhubungan, seorang anak akan dapat berperan dalam pembangunan ketika dia mendapatkan pendidikan yang bagus. Gimana mau berperan dalam pembangunan kalau tempat Ia menempuh pendidikan justru membuat moralnya rusak. Jadi bagi saya, pendidikan terbaik untuk anak adalah harga mati.

Masalahnya, menempuh pendidikan itu membutuhkan waktu yang tak sebentar dan biaya yang tak sedikit. Sudah siapkah kita?

Menurut ZAP Finance, rata-rata inflasi biaya pendidikan di Indonesia adalah sebesar 15% per tahun, tergantung kebijakan masing-masing sekolahnya. Desember nanti Alif akan genap berusia 3 tahun, rencananya tahun depan kami akan memasukkan Alif ke TK. Misalnya TK incaran saya tahun ini biaya masuknya adalah sekitar Rp 5.000.000,00, dengan perkiraan inflasi biaya sekolah sebesar 15% per tahun maka ketika Alif masuk TK tersebut biaya masuknya akan menjadi Rp 5.750.000,00.

Jika tahun depan Alif masuk TK, itu artinya 15 tahun lagi Alif akan masuk perguruan tinggi. Kebetulan tahun ini adik saya memasuki jenjang perkuliahan jadi saya sempat survey biaya masuk beberapa universitas di Jawa Timur. Dari data yang saya dapat, kisaran total biaya universitas di Jawa Timur adalah sekitar 20-50 juta untuk jurusan selain kedokteran.

Misalkan saat ini jurusan yang akan dipilih Alif kelak menetapkan  biaya masuk sebesar Rp 50.000.000,00, masih dengan inflasi sebesar 15% per tahun, maka 15 tahun lagi, biaya masuk jurusan tersebut akan menjadi Rp 406.853.08,00. Itu kalau Alif memilih jurusan selain kedokteran, nah kalau kelak ternyata Alif ingin menjadi dokter, ya pasti biaya kuliahnya akan lebih besar lagi.

Ilustrasi Biaya Pendidikan Anak dari jenjang TK hingga Universitas

Melihat biaya pendidikan yang melambung tinggi, saya berharap Alif tak berminat untuk masuk kedokteran, agar biaya yang harus saya siapkan tidak membengkak lagi. Saat ini Alif memang belum bisa mengungkapkan apa cita-citanya kelak, namun jika melihat dari minat dan bakatnya saat ini, sepertinya Alif lebih tertarik bidang teknologi. Mungkin animator, gamer, atau desain grafis adalah pekerjaan yang sesuai dengan passionnya.

Kalau pun memang Alif bercita-cita ingin menjadi dokter sekalipun, tentu saya tak akan melarang meskipun itu artinya saya dan suami harus lebih giat lagi menyiapkan biaya pendidikannya. Intinya, kami akan mendukung apa pun cita-cita Alif kelak, baik secara moril maupun materi. Semoga saja gaji suami mencukupi.



Ngomong-ngomong soal gaji, kenyataan di lapagan, kenaikan biaya pendidikan di Indonesia yang begitu drastis, tak sebanding dengan kenaikan gaji rata-rata pegawai yang hanya berkisar antara 10-12% saja. Itu pun masih harus dipotong cicilan dan kebutuhan rumah tangga lainnya.

Belum lagi kian hari biaya kebutuhan semakin meningkat lebih besar dari kenaikkan penghasilan rata-rata pekerja di Indonesia. Hal itu membuat pengeluaran bulanan hampir sama besarnya dengan penghasilan. Sehingga jatah uang untuk ditabung demi mempersiapkan pendidikan anak semakin berkurang.

Di sisi lain, menabung bukan langkah yang efektif jika digunakan untuk mempersiapkan dana pendidikan. Karena uang yang ditabung tak akan sanggup mengimbangi laju inflasi biaya pendidikan yang tinggi. Malah uang tabungan dapat berkurang karena dipotong biaya administrasi bank.

Kabar baiknya, tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini menuju ke arah yang baik. Tahun ini pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi akan mencapai 6%, nilai yang lebih tinggi dari tahun lalu.

Bahkan para pakar memprediksi 15 tahun mendatang, Indonesia akan masuk 20 besar perekonomian dunia, lebih tinggi satu tingkat dibanding Australia. Indonesia akan menjadi ladang yang menjanjikan untuk para investor. Dengan begitu nilai rupiah pun akan menguat, itu artinya saat yang tepat untuk kita berinvestasi dalam menyiapkan dana pendidikan anak.

Namun sebelum memulai berinvenstasi untuk pendidikan anak, ada baiknya mengikuti langkah-langkah yang disampaikan oleh Prita Hapsari Ghozie dari ZAP Finance berikut.

1. Lakukan survey dengan mendatangi sekolah-sekolah yang diinginkan atau datang ke pameran sekolah,

2. Riset biaya masuk sekolah incaran tahun ini,

3. Gunakan kalkulator financial untuk menghitung biaya sekolah tersebut ketika anak mulai bersekolah di sana. Perhitungan dengan kalkulator financial dapat diakses di sini,

4. Pelajari dan tentukan jenis investasi yang tepat untuk mengejar target biaya pendidikan anak. Untuk investasi dengan jangka waktu di atas 10 tahun, Prita Hapsari Ghozie, menyarankan untuk mengambil investasi yang lebih agresif seperti reksadana saham dengan timbal balik sebesar 18%.

5. Gunakan kembali kalkulator financial untuk menentukan jumlah investasi yang harus disiapkan tiap bulannya.

Hal yang perlu diketahui soal investasi adalah tak ada investasi yang 100 % bebas resiko, oleh karena itu pelajari benar-benar soal investasi dan jangan hanya bermain pada satu jenis investasi saja.

Selain reksadana, kita juga bisa mengambil asuransi pendidikan untuk anak. Kelebihan asuransi pendidikan adalah memiliki perlindungan kepada pemegang polis hingga berusia 99 tahun. Sehingga jika terjadi sesuatu dengan orang tua maka anak tetap memiliki dana untuk meneruskan pendidikannya.

Masalahnya, tak semua orang mampu untuk membeli produk investasi karena penghasilan bulanannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Atau seperti saya, mampu memulai berinvestasi namun belum mampu mengejar target biaya pendidikan anak.


Tentu saja saya tak mau tinggal diam, saya mengambil langkah untuk memenuhi biaya pendidikan Alif dengan cara mengikuti program Bekal Masa Depan Chil-Go! yang merupakan langkah untuk mendukung gerakan #SiapCerdaskanBangsa dari Morinaga Chil-Go! Ada hadiah berupa asuransi pendidikan dengan total 3 milyar untuk 9 pemenang utama serta hadiah hiburan untuk 3035 peserta. Hadiah utama berupa dana asuransi pendidikan tersebut dibagi menjadi 3 kategori di masing-masing periode, yaitu:

  • Platinum: Asuransi Pendidikan senikai Rp 500.000.000,00*
  • Gold: Asuransi Pendidikan senilai Rp 300.000.000,00*
  • Silver: Asuransi Pendidikan senilai Rp 200.000.000,00*
*berdasarkan perhitungan investasi hingga anak berusia 18 tahun.

Cara untuk mengikuti program ini adalah dengan cara berbagi cara stimulasi dan ide kreatif untuk mengembangkan kecerdasan si kecil di www.BekalMasaDepan.com, langkah selengkapnya pernah saya tuliskan di sini, atau bisa juga dengan menonton video berikut.


Satu hal yang perlu diinggat, saat ini Indonesia tergabung dalam MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) di mana hambatan ekonomi antar negara ASEAN semakin kecil. Hal ini tentu memudahkan bagi pengusaha industri mau pun pelaku ekspor impor. Dalam dunia ketenagakerjaan, MEA memberikan kesempatan sebesar-besarnya bagi masyarakat Indonesia untuk mencari pekerjaan di negara-negara ASEAN. Namun di sisi lain, hal tersebut berarti lapangan pekerjaan di Indonesia juga terbuka untuk pekerja dari negara ASEAN lainnga. Itu artinya persaingan semakin ketat, jika anak-anak kita tak dipersiapkan sejak dini untuk menghadapi pasar bebas, pastinya mereka akan terlempar.

Jangan sampai jabatan penting di perusahaan Indonesia diisi oleh bangsa luar, sedangkan pribumi hanya menjadi bawahan. Atau orang luar menjadi bos di Indonesia sedangkan warga Indonesia menjadi pembantu di negara lain. Sebagai orang tua, kita lah yang bertanggung jawab untuk menjadikan anak-anak kita menjadi generasi yang memiliki SDM berkualitas sehingga anak-anak kelak dapat menjalankan perannya dalam pembangunan dengan baik.

Asah kecerdasan majemuknya, kenali minat dan bakatnya, berikan anak pendidikan terbaik, serta siapkan dana pendidikanya sejak dini. Jangan lupa juga untuk ikutan program Bekal Masa Depan Chil-Go! dan raih kesempatan memenangkan dana pendidikan anak hingga Ia dewasa. Program BMD sudah masuk periode ke dua lho!

Cheers! *foto keluarga gagal* :D





6 komentar:

  1. Bwahahahha..saya kok malah ketawa lihat foto terakhir itu. Si anak malah cool banget gak lihat kamera.

    *salahfokus

    BalasHapus
  2. Mau gak mau harus investasi mbak. Kalo nabung aja sampe kapanpun sih gak bakal cukup. Kecuali kalo duit di rekening macem daun berguguran di hutan. Sayangnya saya bukan kategori orang kaya gitu, hahaha.

    BalasHapus
  3. Hak untuk bermain anak mah wajib banget yesss, kasihan mereka kalo masih kecil dan rumet mikirin masa depan ngak jelas hahaha

    BalasHapus
  4. eh itu si anak ganteng sudah sehat? wah alhamdulillah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah mbak, setelah opname 4 hari :D

      Hapus
  5. Haha ini kemaren yg terusannya di IG ya? Yup, anak itu kita yg pengen, berarti mang harus siap terima apapun itu klak dia menghadirkan beberapa bujet ndiri, misal pendidikan

    Wowwww,aku jadi tertarik ini ngliatin preminya nolnya banyak hihi

    BalasHapus

Hai, terimakasih sudah berkunjung. Komentar boleh, Nyepam jangan, :)