Jumat, 15 Juli 2016

Ketika Dunia Hanya Milik Wanita Cantik


Aku ingin kurus...
Kenapa?
Jika aku gemuk sulit untuk mengontrol berat badanku
Juga...
Ada alasan lain.
Aku sangat tau tak akan ada orang yang mau menolongku...
Lebih baik mereka menertawaiku, diejek lebih baik daripada dikasihani.
Sulit bergerak jika kau gemuk...
Tapi hati terluka lebih sulit lagi.
Narasi di atas merupakan cuplikan salah satu drama seri dari Korea Selatan yang berjudul Birth Of Beauty. Dalam drama tersebut dikisahkan seorang wanita bertubuh gemuk dan memiliki wajah di bawah standar masyarakat pada umumnya yang mengajukan diri agar dapat kesempatan menjalani operasi plastik karena tak tahan terhadap perlakuan diskriminatif yang didapat dari orang-orang di sekitarnya.

Yaah, baginya dunia hanya milik orang-orang cantik bertubuh kurus.

Wanita Jelek Sulit Hidup di Korea Selatan

Dalam satu minggu ini, secara tidak sengaja, saya menonton dua buah drama korea dengan tema yang hampir sama, yaitu tentang wanita bertubuh gemuk, wajah tak rupawan, dan perlakuan diskriminatif yang dialaminya sehingga berujung pada operasi plastik.

Hal tersebut menarik perhatian saya untuk mengulik lebih dalam tentang fenomena operasi plastik di Korea Selatan.

Sebagaimana kita ketahui, Korea Selatan merupakan negara pusat operasi plastik terbesar ke dua di dunia setelah Brazil. Selebaran-selebaran berisi promosi klinik operasi plastik bisa dengan mudah dijumpai di tempat umum seperti stasiun atau bahkan di tiang listrik, udah macam iklan sedot WC aja kalau di Indonesia.

Sebagian besar wanita di Korea Selatan pernah melakukan tindak operasi plastik, dari operasi kecil seperti menggandakan lipatan mata, sampai operasi besar seperti merubah keseluruhan bentuk wajah dan tubuh. Di Korea Selatan, operasi plastik bukan lagi sekedar gaya hidup, namun menjadi sebuah kebutuhan pokok, seperti makan atau bernafas.

Saya baru mengerti mengapa operasi plastik begitu laris di Korea Selatan, ternyata menurut sebuah artikel yang saya baca dari salah satu portal berita besar di Indonesia, standar kecantikan di Korea Selatan sangatlah tinggi. Wanita-wanita yang tak memenuhi kriteria kecantikan mereka akan mendapat perlakuan diskriminatif, mulai dari dibully, diejek, sampai dikucilkan.

Banyak wanita asing yang bermukim di Korea Selatan yang akhirnya menyerah dan kembali ke asalnya karena tak tahan terhadap perlakuan diskriminatif yang mereka alami, hanya karena bentuk tubuh dan wajah mereka tak sesuai standar kecantikan wanita Korea.

Setelah membaca artikel tersebut, saya justru berpikir bahwa hal tersebut tak hanya terjadi di Korea Selatan, bahkan sebenarnya di Negara kita, Indonesia, perlakuan diskriminatif terhadap wanita yang dianggap tak rupawan pun sering terjadi. Bedanya masyarakat Indonesia masih malu-malu untuk bertindak ekstrem, paling banter rasan-rasan di belakang atau curhat di sosial media.



Contoh paling nyata adalah soal kontes pemilihan putri-putrian, syarat memiliki badan ideal serta penampilan menarik ditaruh di baris paling atas. Kemudian muncullah, kontes untuk wanita berbadan besar yang katanya dibuat untuk memberi kesempatan bagi wanita yang tak memiliki tubuh proporsional untuk unjuk diri. Terlihat mulia, tapi dalam pandangan saya ini sama saja mengkotak-kotakan kriteria tiap wanita. Misi sosial dimasukkan agar kontes-kontes tersebut terlihat memberi manfaat bagi sesama.

Well, I just Don't Get it, kenapa dalam berbuat kebaikan harus membedakan paras dan ukuran tubuh?

Okelah, kalau soal kontes-kontesan pengaruhnya paling cuma secuil dalam kehidupan sehari-hari, gak ikut berpartisipasi pun gak akan berdampak besar. Lalu bagaimana dengan pekerjaan?

Coba lihat, di berita-berita lowongan pekerjaan, hitung saja berapa jenis pekerjaan yang tak memasukkan syarat soal penampilan?

Di film atau sinetron layar kaca, si wanita tak rupawan selalu mendapat jatah peran yang selalu sial, dijadikan pelengkap cerita untuk bahan bercandaan, tapi pada akhirnya si cantik lah yang selalu menang.

Ada yang suka bersosial media?

Mungkin pernah mendengar beberapa waktu lalu ada akun pria tampan yang menggunggah foto bersama sang pacar yang memiliki wajah di bawah standar masyarakat dunia maya, seketika foto tersebut menjadi viral, dan si wanita pun jadi bahan olokan. Atau soal wanita bertubuh gemuk yang dinikahi seorang pria bule, netizen pun heboh berkomentar betapa beruntungnya si wanita. Seolah-olah wanita bertubuh gemuk bukan jodoh yang pantas untuk pria bule, padahal bule pun juga banyak yang memiliki berat badan berlebih.

Ketinggalan beritanya?

Tak perlu lah mengubek-ubek sosial media sedemikian rupa, buka saja akun-akun guyonan di instagram, dan hitunglah berapa banyak wanita "di bawah standar" yang fotonya terpampang tanpa ijin di akun-akun tersebut dilengkapi caption mengarah ke pembullyan, dan kemudian dijadikan wadah tertawa masal bahkan sampai dishare ulang berkali-kali.


Cantik itu datangnya dari dalam hati...

Jarang sekali saya menemukan ada yang menyangkal pernyataan di atas, bahkan pada saat acara kontes kecantikan, dalam sesi tanya jawab, ketika juri menanyakan apa makna cantik menurut si kontestan, mereka pun akan dengan lantang menjawab bahwa cantik itu dari hati.

Sempat saya berpikir, bahwa mereka mudah saja mengatakan hal seperti itu, karena para kontestan tersebut ada di kubu wanita berparas cantik. Nah, kalau wajah mereka tak rupawan? Apakah mereka masih bisa percaya diri bahwa cantik itu datangnya dari dalam hati?

Tapi setelah saya perhatikan, bahkan banyak juga wanita "di bawah standar" yang meng-Amiin-i pernyataan di atas, apalagi kalau melihat wanita cantik lewat di hadapan mereka.

"Cantik make up doank itu mah, mending kita cantik dari hati"

"Dia emang cantik sih, tapi sayang hatinya busuk, kita donk, hatinya cantik"

"Muka kita emang gak cantik, tapi hati kita cantik, daripada Si Anu, cantiknya operasi plastik, palsu"

Frasa "cantik dari hati" menjadi senjata ampuh untuk membanggakan si tak rupawan dan menjatuhkan image si cantik. Mungkin karena dendam dengan diskriminasi yang sering mereka dapatkan akibat wanita cantik, mungkin juga memang tak ada lagi yang bisa mereka banggakan selain hati yang tak terlihat karena tertutup kain dan kulit, karena membanggakan fisik pun, malah bully yang didapat.

Mereka, si cantik dan si tak rupawan, dengan bangga mengatakan bahwa kecantikan dari hati itu yang utama, tapi si cantik dengan mudah mengomentari hidung yang pesek, kulit yang hitam, jerawat di wajah, dan segala fisik yang tak sempurna. Dan si tak rupawan, menggiring opini bahwa make up adalah topeng ketidakpercayadirian si cantik, operasi plastik adalah simbol kepalsuan, merawat kulit wajah adalah pemborosan uang. Lalu sebenarnya hati mereka yang katanya cantik itu tertinggal di mana?

Mereka lupa bahwa setiap wanita punya hak hidup yang sama, bebas menjalani pilihan hidupnya, bebas melakukan apapun yang mereka mau selama tidak merugikan orang lain, kenapa harus dikotak-kotakkan?

Fisik seseorang yang berbeda dari kita itu gak akan berpengaruh untuk hidup kita, lantas kenapa harus saling menghujat? Make up atau tidak bermake up, terawat atau tak terawat, gemuk atau kurus, cantik atau jelek, semua wanita sama. Harus dihargai..!



Bagi saya sendiri, makna cantik dari hati, gak sekedar ada di hati, jangan hanya disimpan di hati, tapi harus diimplementasikan dalam pikiran, perbuatan, dan perkataan kita. Ketika kita menghargai orang lain sama besarnya seperti kita menghargai diri sendiri, menggunakan pikiran kita dengan cerdas, berkata tanpa menyakiti, serta selalu memberikan senyuman terbaik kita dengan tulus.

Wanita yang selalu tersenyum dengan tulus, menurut saya adalah wanita yang tau bagaimana memancarkan kecantikan dari dalam hatinya.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Wardah #CantikdariHati Blog Writing Competition



6 komentar:

  1. Iya juga sih, Indonesia masih malu-malu buat ngatain secara langsung yg gak cantik, tapi palinggak gak ini lebih bagus sih kak hhe ketimbang langsung. Tapi tetep aja gak enak ya :'v

    Aku sebenarnya agak mingung kenapa cewek2 di korea lebih memilih operasi ketimbang natural apa adanya, toh anak mereka entar yg lahir jga bakalan sama dgn fisik yang semula. Gak bisa diubah...

    BalasHapus
  2. Ntappppp, baru baca postingan lomba ini dan baru nemu artikel yang beda dari kontestan laennya mer hihi
    Lebih ke opini, dan a kuh suka baca opini

    Iya ya, aku kadang suka bingung, kok putri2an itu diidentikkan dg tinggi, la klo yg mungil tp cantik kan banyak juga

    BalasHapus
  3. Aku blom pernah ke korsel tp temenku yg pernah ke sana pernah bilang.
    Gw bingung phi semua cewek mukanya seragam bingung bedainnya
    Cetakan sm dokter bedahnya sama kali yaa.
    Wkwkwkwk

    BalasHapus
  4. Aak bagusss, seneng ama sudut pandang tulisannya. Good luck ya Mbak, makin bersinar :))

    BalasHapus
  5. Ahhh pengennya aku bs cantik dr hati juga

    BalasHapus
  6. sukahh sukaaahhh
    I'm with you meeerrr...
    aku sendiri gak nonton putri2an karena itu
    terus mereka dipajang2 gitu, dimanfaatkan oleh banyak pihak
    kok ya mau
    lebih sedih lagi kontes putri2an pake kedok muslimah
    kan ih banget :(((
    tapi kok ya mereka seneng digituin
    da aku mah kesian

    BalasHapus

Hai, terimakasih sudah berkunjung. Komentar boleh, Nyepam jangan, :)