Rabu, 18 November 2015

Belajar Investasi

Assalamu'alaikum,

Kemaren tidur kesorean, jadi tengah malem udah bangun aja dan akhirnya stuck baca-bacain blognya para family blogger yang membahas tentang financial planning.


Dari kemaren-kemaren sih, emang udah suka kepo blog family blogger tapi lebih tertarik baca postingan liburannya mereka *lalu kemudian ngiri*


Sampai akhirnya khatam bacain label travellingnya, eh kok ya iseng baca soal financial planning, padahal dari dulu gak pernah tertarik soal kaya begini, ngerasa gak perlu aja soalnya apaan yang mau diplanning wong duit tiap bulan selalu habis tak bersisa biar udah makan tempe sayur asem tiap hari, wkwkwk.



Kesimpulan yang saya tarik sih, para blogger itu banyak yang berinvestasi untuk menyiapkan dana di pos-pos tertentu seperti dana pendidikan anak, dana liburan, sampai dana beli tas (branded).


Meskipun yang saya lihat rata-rata mereka adalah pasangan yang bekerja dengan gaji yang tak sedikit juga, tapi tetep mereka gak mau take a risk aja, apalagi kalau ada pengeluaran dadakan ya?


Nah, soal pengeluaran dadakan yang tak terduga, saya jadi mikir kayaknya emang perlu deh berinvestasi itu. Dan dipikir lagi, saya dan suami emang gak punya pegangan tetap kalau pas harus ngeluarin duit yang tak disangka-sangka. Kalau pas lagi ada ya lega, pas gak ada sutris deh sepanjang hari, wkwk.


Dulu mikirnya investasi itu dalam jumlah geday yang mana sepertinya kita belum mampu buat beli produk investnya.


Eh dulu pernah sih, nekat beli tanah sejak pacaran, 2,5 tahun kemudian, akhirnya laku (setelah 6 bulan masang iklan dan di-PHP-in pembeli) dengan harga yang udah naik 2x lipatnya, aslinya bisa 3x lipat sih tapi karena kita butuh uang jadi diturunin aja harganya.


Hasil jualan tanahnya bisa buat nutup cicilan tanah, utang-utang buat nambahin beli tanah (beginilah kalau nekat), liburan ke luar kota, dan bayar DP rumah. Lumejen kaaan?


Tapi investasi properti itu ada kekurangannya, eh tapi menurut ligwina hananto, gak ada investasi yang 100 persen aman. Berdasarkan kuliah dari blog ke blog, forum ke forum, saya jabarin hasil pembelajaran yang saya dapet soal investasi di sini ya.


Investasi properti:
+ untungnya gede, waktu singkat bisa naik banyak dari harga beli
+ nilai jual hampir selalu naik (kecuali amit-amit kaya kasus lapindo yang bikin nilai jual tanah di deket situ turun ya)
- perlu modal besar buat beli propertinya
- kalau butuh uang, gak bisa langsung cair
- proses jual belinya butuh waktu lama


Investasi logam mulia/emas
+ modal kecil
+ proses jual beli cepat
- nilai keuntungannya cenderung stagnan, kalau pun naik gak terlalu banyak


Investasi reksadana:
+ modal cenderung kecil, tp gak sekecil emas
- nilai keuntungan tergantung inflasi dan teman-temannya, bisa rugi bisa untung gede banget.
- sulit dimengerti (apa saya aja ya yang dengdong masalah reksadana, busyet itu banyak banget penjelasannya, jenis-jenisnya de el el, langsung close tab)


Setelah menyontek ilmu para suhu, saya jadi tertarik buat invest logam mulia karena modalnya kecil dan bisa dicicil, haha.


Dari dulu udah tau sih soal invest emas gitu, mama saya juga kalau ada duit banyakan diń∑it langsung beliin emas. Tapi saya gak tau kalau bisa dicicil dan segala jenis penawaran menggiurkan lainnya. Kalau langsung beli emas tunai, untuk saat ini masih belum sanggup soalnya.


Selain itu, itungannya kan sama kaya nabung tiap bulan dan wajib. Kalau nabung secara personal gitu, karena gak ada kewajiban jadi yang ada uang itu ngalir gitu aja gak ada wujudnya, niat nabung hanyalah niat semata.


Dan waktu coba diskusi sama suami, eh kok dia langsung setuju. Padahal kalau udah nyangkut ide keuangan gini mesti harus pake adu argumen dan saya selalu kalah, karena saya paling males ngurusin uang, lebih suka ngabisinnya, wkwkwk.


Baiklah, mari mempelajari investasi logam mulia lebih dalam lagi.






2 komentar:

  1. Saya beli emas di Antam beberapa tahun lalu. Kami kemudian mencoba menjualnya kembali di Antam, tapi mereka tidak bersedia. Ternyata peraturannya, Antam bersedia menjual tetapi tidak bersedia membeli kembali.

    Kami mencoba menjualnya ke toko emas, tapi toko emas tidak mau membeli. Alasannya, emasnya bukan dibeli di toko mereka. Mereka cuma bersedia membeli kembali emas yang pernah dijual di toko mereka.

    Jadi kami berkesimpulan, emas itu mudah dibeli, tapi sulit untuk dijual.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lho iya ta mbk? Reviewnya kok kalau emas antam lebih tinggi nilai jualnya ya,, jd meragu..

      Hapus

Hai, terimakasih sudah berkunjung. Komentar boleh, Nyepam jangan, :)