Kamis, 15 Oktober 2015

Ditampar Pedagang Sate Keliling

Assalamu'alaikum,


"Sateeeee... sateeee"

Suara tersebut hampir tiap malam saya dengar sejak tinggal di rumah mertua 6 bulan belakangan ini. Pemilik suara tersebut adalah seorang pedagang sate ayam yang berteriak menawarkan dagangannya saat melewati depan rumah. Sekilas tak ada yang istimewa dari suara tersebut, tak ada bedanya dengan suara pedagang sate kebanyakan.


Selain itu karena saya bukan maniak sate, jadi seringkali bahkan gak pernah sekali pun saya tertarik untuk membelinya. Lagipula tidak jauh dari rumah mertua juga ada pedagang sate yang berjualan di warung dan menetap jadi kalau ingin membeli sate tinggal ngesot ke sana aja, gak perlu menunggu ada pedagang sate yang lewat.


Sampai suatu hari, saya harus keluar rumah untuk membeli sesuatu di warung kelontong, dalam perjalanan menuju warung saya melihat sebuah gerobak sate sedang mangkal di ujung gang dan betapa terkejutnya saya ketika mendapati bahwa selama ini sosok pedagang sate yang suaranya sering saya dengar tersebut adalah seorang wanita.


Masih setengah tak percaya karena suaranya saat berteriak menyebut kata "sateee...sateee" tersebut sungguh perkasa seperti suara seorang laki-laki, saat di rumah saya pun bertanya pada kakak ipar yang sering membeli sate ayam tersebut, dan kakak ipar mengiyakan bahwa pedagang sate ayam itu memang seorang wanita.


Seketika muncul rasa iba di hati saya, malam-malam ada seorang wanita yang usianya jauh di atas saya harus mendorong gerobak sate, berpeluh keringat dan melawan dinginnya malam berkeliling kampung demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Jangankan malam yang dingin, bahkan pernah di suatu malam hujan deras mengguyur dan si ibu pedagang sate tersebut tetap berkeliling kampung untuk menawarkan satenya.


Semenjak saat itu sebisa mungkin kalau ingin membeli sate ayam, saya lebih memilih untuk menunggu si ibu lewat ketimbang membeli di warung sate.


Dan tentunya, selain rasa iba yang muncul, naluri kepo saya juga ikut beraksi ketika itu. Sehingga suatu malam saat kebetulan saya belum makan malam dan di rumah juga sedang tidak ada makanan, saya dengan sengaja menanti kedatangan ibu penjual sate.


Begitu saya mendengar suara ibu yang khas saat menawarkan satenya tersebut, saya langsung memanggil dan memesan satu porsi sate ayam. Sembari menunggu si ibu membakar satenya, jiwa wartawan saya pun beraksi, mulai lah saya bertanya-tanya tentang kehidupan si ibu.

Maaf ya gambarnya gelap, maklum aja udah malem, kalau siang nanti judulnya jadi pedagang es tung tung donk! Krik krik krik.. -____-


Dari percakapan singkat di antara kami, saya pun berhasil mendapatkan beberapa informasi tentang ibu pedagang sate tersebut.


Nama si ibu adalah May, suaminya adalah seorang tukang becak yang bekerja dari pagi hingga sore. Ibu May memiliki 5 orang anak, yang paling tua berusia 30 tahun, belum menikah sehingga masih menjadi tanggungan ibu May dan suaminya. Sedangkan anak keempat dan kelimanya adalah anak kembar yang saat ini masih duduk di kelas 4 SD. Untuk membantu perekonomian keluarga ibu May terpaksa berjualan sate ayam keliling tiap malam.


Aahh hati saya terenyuh mendengarnya, ketika para wanita di luaran sana saat ini sedang sibuk dengan Mommy War tentang siapa yang lebih baik di antara ibu bekerja atau ibu rumah tangga, di salah satu gang kecil di Kota Malang ada seorang ibu berusia paruh baya yang mengerjakan dua hal tersebut setiap hari. Ketika pagi sampai sore dia menjadi ibu rumah tangga, mengurus anak dan rumah kala suaminya pergi bekerja.


Sedangkan di malam hari dia terpaksa masih harus bekerja mendorong gerobak satenya menyusuri tiap gang bahkan tiap kampung di kota Malang yang tau sendiri kan kalau Malang itu adalah daerah pegunungan sehingga elevasi tanahnya naik turun. Itu artinya ibu May harus berjuang lebih keras saat berjalan mendorong gerobaknya.


Saya saja yang usianya bahkan jauh di bawah usia anak pertama ibu May, cuma berjalan menyusuri satu gang saja rasanya sudah kelelahan luar biasa dan selalu berakhir dengan keluhan, "haduh capeeek", sedangkan ibu May yang usianya sudah tidak muda lagi harus berkeliling dari kampung ke kampung tiap malam sambil mendorong gerobak satenya, tak terbayang di benak saya bagaimana lelah yang dirasa oleh ibu May.


Terlalu dini jika saya menyimpulkan bahwa ibu May ikhlas menjalani semua itu, tapi setidaknya saya tahu dia sudah bertahan. Dia sudah bertahan dalam kurun waktu yang cukup lama. Dia bertahan untuk tetap bekerja lebih keras dari wanita kebanyakan di usianya yang sudah tak muda lagi. Dia bertahan tanpa perlu menjabarkan dengan detail pada semua orang bagaimana melelahkan kegiatannya setiap hari, dia bertahan tanpa banyak kata, cukup teriakan "sateeee... sateeee", sudah membuktikan bahwa pertahanannya cukup kuat untuk menampar ibu-ibu yang masih mengeluh cuma karena hal menye-menye yang sungguh tak pantas dikeluhkan (tunjuk diri sendiri).


Look at her, she struggles for her life, she has taken all the harshest of the weather, but still she stand. Sehat terus ya buuu, terimakasih karena sudah menampar saya.


Tulisan ini diikutsertakan dalam "IHB Blogpost Challenge"





5 komentar:

  1. Hiks... Ini menyentuh :')
    Aku belum pernah ketemu pedagang sate keliling perempuan. Tapi memang banyak banget perempuan, usianya udah nggak muda lagi, dan "terpaksa" berkerja berat demi keluarga. Bener-bener "menampar" yah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mbk.. jd malu sm diri sndri, heheh

      Hapus
  2. iya mbak, pedagang sate di kampung halaman saya di jogja juga ada yg suaranya serak gitu. eh ternyata perempuan. tp jualnya sore hari.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perempuan2 perkasa ya, kalo aku mah udah angkat tangan. Hehe

      Hapus
  3. Cerita singkat tapi padat dan jelas *dikira jawaban esai
    Akika jadi terharu nih Mbak.
    Akika lagi lihat lihat blog pemenang IHB blog post challenge :)

    BalasHapus

Hai, terimakasih sudah berkunjung. Komentar boleh, Nyepam jangan, :)