Jumat, 12 Februari 2021

Pengalaman Ke Banyuwangi Bersama Bayi Saat Pandemi

Akhirnyaaa... setelah sekian lama, keinginan saya untuk bisa menginjakkan kaki di The Sunrise of Java alias Banyuwangi tercapai juga. Yaaah, meskipun gak bisa bebas mengeksplor Banyuwangi karena kami ke sana saat pandemi tapi sudah cukup membuat hati saya senang kok.

Tujuan kami ke Banyuwangi gak murni untuk liburan, melainkan karena suami ditugaskan untuk dinas luar kota. Kalau gak ada tugas kerja begini, gak mungkin mau lah Pak Suami ke Banyuwangi karena dia paling ogah nyetir jauh di jalur non tol apalagi jalur pantura. Ini pun kami terpaksa diajak juga karena rumah sedang tahap renovasi.

Baca juga: Katanya Sih, Home Sweet Home

Kami berada di Banyuwangi selama 3 malam 4 hari. Berangkat hari senin sore dari Sidoarjo, sampai hotel jam 11 malam. Aslinya sih jadwal dinas Pak Suami cuma 3 hari aja. Berhubung perjalanan yang harus ditempuh lumayan jauh dan melelahkan, kami pun memutuskan untuk menambah 1 hari lagi supaya anak-anak gak terlalu kecapekan.


Penginapan di Banyuwangi


Selama 2 malam, kami menginap di El Royale Hotel Banyuwangi. Hotel ini dipilih oleh kantor suami yang menurut saya lebih cocok untuk liburan daripada kerja karena vibesnya tuh ngajak santuy kayak di pantuy banget. Desain dan suasananya udah mirip dengan hotel-hotel di Bali deh.

Area kamar diletakkan di bagian belakang yang mana tamu diharuskan berjalan cukup jauh. Lokasi hotel berada di pinggiran kota arah ke Jember, sekitar 4 km dari pusat kota. Agak susah mencari vendor makanan yang dekat dengan hotel di aplikasi ojek online. Untungnya, kalau tamu pesan makanan online, boleh dititipkan ke resepsionis dan nanti akan ada staf yang mengantarkannya sampai kamar.

Memang untuk pelayanannya oke banget sih. Protokol kesehatannya apalagi. Sarapannya buffet tapi sistemnya diambilkan oleh staf. Ala-ala warteg gitu jadinya, tamu berdiri di belakang pembatas sambil menunjuk menu yang ingin disantap, hehe.


Dari El Royale Hotel, kami berpindah ke Hotel Blambangan yang berada tepat di seberang Taman Blambangan, pokoknya di pusat kota banget lah.

Hotelnya gak terlalu luas, bangunan di bagian depan dimanfaatkan untuk area resepsionis dan ruang makan sedangkan di bagian belakang terdapat kolam dan bangunan 2 lantai yang dimanfaatkan untuk kamar hotel.

Kamar kami sendiri berada di lantai bawah dengan balkon yang persis berhadapan dengan kolam renang.


Meskipun bangunannya terlihat lawas tapi desainnya sudah dirombak menjadi cukup moderen dan nyaman. Gak ada kesan spooky, kok.

Untuk sarapannya, sistemnya diantar ke kamar dan tamu hotel diberi pilihan menu. Saat itu, kami memilih menu nasi goreng serta fruit platter dan kopi hitam untuk minumannya.


Kuliner Banyuwangi


Kami hampir gak pernah ke mana-mana selama di Banyuwangi. Untuk urusan membeli makanan, kami lebih banyak memanfaatkan jasa ojek online

Warung Kemarang dan Pesantogan Kemangi, hanya 2 tempat itulah yang kami datangi selama 4 hari di Banyuwangi. Keduanya sama-sama berada di Kawasan Wisata Adat Osing Kemiren.

Sambil menunggu waktu check in di Hotel Blambangan, kami memutuskan untuk makan siang di Warung Kemarang sekalian nyari tempat untuk Alif sekolah online, hehe.

Lokasi Warung Kemarang sudah agak jauh dari area perumahan penduduk. Lumayan naik banget ke atas tapi gak menyesal karena suasananya adem dan asri.

Areanya cukup luas eh enggak, luas bangeeet. Masuk resto bakal ketemu semacam aula semi indoor di mana tempat kasir, dapur, dan beberapa meja diletakkan. Di area belakang ada area gazebo ditempatkan. Area gazebo menempati sayap kiri dan kanan yang dipisahkan oleh persawahan yang cukup luas. Selain sawah yang hijau, mata juga dimanjakan dengan bunga-bunga dan tanaman yang berjajar di sepanjang area gazebo.

Warung Kemarang menyediakan menu khas Osing seperti Uyah Asem dan Pecel Pitik. Selain itu ada juga menu lainnya yang bisa dijadikan pilihan untuk disantap. Tak lupa, tersedia kue cucur yang juga menjadi jajanan khas Suku Osing.

Waktu itu kami memesan Uyah Asem, Soto Ayam, Nasi Goreng, dan Kue Cucur. Uyah asem atau yang sering disebut juga Ayam Kesrut menurut saya agak mirip dengan Garang Asem tapi dengan kuah yang light, segar, dan sedikit pedas.


Overall, rasa makanan di Warung Kemarang lumayan oke khususnya untuk menu yang kami pesan. Tapi untuk kue cucurnya terlalu berminyak, mungkin karena disajikan sudah dalam keadaan dingin.

Dari Warung Kemarang, saya berniat untuk mampir ke warung kopi yang terletak di tengah perkampungan penduduk yang menjual Kopi Jaran Goyang khas Suku Osing. Sayangnya sampai sana, warung yang saya tuju sedang tutup. Akhirnya kami berpindah haluan ke Pesantogan Kemangi.

Entah karena efek pandemi atau karena kami datang saat hari kerja, saya perhatikan kedai-kedai kecil di Kawasan Wisata Osing banyak sekali yang tutup saat itu. Hanya rumah makan besar yang masih buka.


Selain kopi jaran goyang, Pesantogan Kemangi juga menawarkan menu dan jajanan khas Suku Osing seperti Uyah Asem, Pecel Pitik, Serabi, serta Kue Cucur. Bedanya dengan Warung Kemarang, di sini menu beratnya ya hanya 2 makanan khas itu yang semuanya bercita rasa pedas sehingga kurang kids friendly.

Saat itu, kami memesan Kopi Jaran Goyang, Kue Cucur, Pisang Goreng, dan Serabi. Kue Cucurnya jauh lebih enak di Pesantogan Kemangi timbang Warung Kemarang. Selain disajikan saat masih panas, teksturnya juga lebih crispy dan gak alot.

Untuk Kopi Jaran Goyang yang menjadi tujuan utama saya, menurut saya lumayan oke. Mirip dengan kopi tubruk legendaris yang biasa ditemukan di beberapa kota di Indonesia. Yang jelas rasanya gak seperti kopi instan lah.

Dari Pesantogan Kemangi, kami langsung menuju hotel dan gak keluar lagi sampai waktunya kembali ke Sidoarjo keesokan harinya. Urusan makan kami serahkan pada Gofood. Anak-anak sarapan nasi goreng dari hotel, sedangkan kami delivery Sego Cawuk khas Banyuwangi, semacam nasi yang disiram kuah santan dan disajikan dengan lauk pauk serta kerupuk.


Tempat Wisata Banyuwangi


Udah jauh-jauh ke Banyuwangi, sayang banget rasanya kalau gak mampir ke tempat wisatanya. Apalagi sebelum pandemi berlangsung, wisata Banyuwangi sedang booming-boomingnya.

Jadi, buat bukti pernah ke Banyuwangi, dalam perjalanan pulang kami menyempatkan diri untuk mampir ke Pantai Boom yang berlokasi tak jauh dari pusat kota. Gak menyesal menyempatkan mampir ke sini karena meskipun pasir pantainya berwarna gelap tapi desain area sekitarnya bagus sekali. Tertata, bersih, dan rapi. Banyak spot foto yang menarik. Sayang kami datang saat siang hari dan matahari sedang terik-teriknya jadi cuma sempat foto di area pantai terus balik ke mobil untuk melanjutkan perjalanan.

Sesampainya di perbatasan Banyuwangi-Situbondo, kami juga mampir ke Taman Nasional Baluran untuk melihat Savana Baluran yang tersohor itu dan konon suasananya mirip seperti di Afrika.

Sebelumnya Pak Suami sudah pernah berkunjung ke Baluran bersama teman-teman kantornya dan saat itu jalanan menuju savana rusak parah. Butuh waktu 30 menit lebih menuju area savana dari loket masuk. Tapi kondisi Baluran sekarang berbeda, jalan masuknya sudah mulus sehingga hanya butuh waktu sekitar 11 menit saja untuk sampai di area savana.

Kami di Baluran cuma sebentar banget, gak sampai 15 menit deh kayaknya. Foto-foto bentar terus cepet-cepet balik ke mobil. Selain saat itu langit sedang mendung banget, saya takut sama monyet-monyet yang bebas berkeliaran di sana. Malah ada momen, monyetnya lari ke arah Alif saat akan masuk mobil sampai tangannya Alif terjepit pintu mobil karena panik, heuheu.


Perjalanan Sidoarjo Banyuwangi kapan hari menjadi perjalanan darat terjauh dan terlama yang pertama kali Kama tempuh, butuh waktu lebih dari 7 jam. Mana saat berangkat kami harus melewati Hutan Baluran yang panjang dan berkelok di malam hari, eh pulangnya malah harus berhadapan dengan hujan lebat saat berada di tengah hutan. Seru tapi serem!

Mungkin karena kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh, 3 hari berturut-turut setelah dari Banyuwangi, Kama selalu menangis histeris tiap malam saat sedang tidur.

Baca juga: Bayi Menangis Histeris di Malam Hari? Sawan Atau Kolik?

Kebetulan banget waktu itu, paket Calming Tummy Oilnya Mama's Choice baru saja datang. Langsung saya coba balurkan ke tubuh Kama dan ajaib banget, tidur Kama jadi lebih nyenyak. Tangisan histerisnya juga udah mulai berkurang.

Keesokan harinya saya coba melakukan pijat kolik sesuai dengan instruksi yang ada di kemasan Mama's Choice Calming Tummy Oil, yaitu.

  • Usap tubuh bayi perlahan
  • Usap perut searah jarum jam
  • Pijat dengan ibu jari melawan arah jarum jam
  • Usap telapak tangan ke arah luar pusar
  • Usap bagian pusar
  • Sentuhan jari berjalan ke luar pusar


Gak lama setelah melakukan pijat kolik, Kama langsung kentut kenceng banget, kemudian setelah itu tidur dengan nyenyak dalam waktu cukup lama. Setelah bangun tidur, Kama buang air besar dan malamnya udah gak rewel lagi. Kembung kali ya perutnya kena paparan AC terus selama di perjalanan?

Memang setelah saya cari tahu, khasiat minyak buah pala atau Nutmeg Oil yang menjadi salah satu kandungan utama Mama's Choice Calming Tummy Oil adalah dapat meredakan gangguan pencernaan dan perut kembung. Selain itu minyak buah pala juga dipercaya dapat mengurangi gangguan kecemasan, membuat rileks, serta meningkatkan kualitas tidur.

Baca juga: 6 Manfaat Minyak Pala, Salah Satunya Bikin Bayi Tenang 

Meskipun punya segudang manfaat, tapi sejauh ini yang saya tahu gak banyak produk minyak pala yang ada di pasaran apalagi yang aman untuk bayi. Untungnya sekarang sudah ada Mama's Choice Calming Tummy Oil yang gak cuma punya kandungan minyak buah pala yang bermanfaat untuk mengatasi kolik pada bayi, tapi juga terbuat dari bahan yang aman #seamanpelukanmama, halal, natural, dan bebas bahan toksin.


Mama's Choice Calming Tummy Oil saya sekarang udah masuk botol ke 3, itu pun bentar lagi udah mau habis. Selain untuk pijat kolik, biasanya saya gunakan juga setelah Kama mandi untuk menghangatkan badannya.

Harga Mama's Choice Calming Tummy Oil adalah Rp 79 ribu. Jangan lupa gunakan kode voucher MAMAMERISKA jika belanja di website www.mamaschoice.id untuk mendapatkan potongan harga Rp 25 ribu dengan minimal belanja Rp 90 ribu. Gratis ongkos kirim se-Jabodetabek.

Sebagai salah satu destinasi wisata Indonesia, Banyuwangi bisa jadi pilihan yang tepat untuk dijadikan tempat berlibur. Wisata yang ditawarkan beragam, ada pantai, hutan, pegunungan, sampai wisata budaya. Pilihan penginapan di Banyuwangi pun sudah banyak yang fasilitasnya mumpuni dan gak kalah dengan Bali. Tapi untuk dijadikan tujuan berlibur bersama bayi dan anak-anak dengan perjalanan via darat kalau saya sih gak dulu deh. Tunggu jalan tol trans jawa selesai supaya perjalanannya lebih nyaman.

Kita yang dewasa aja capek banget rasanya berjam-jam melewati jalur pantura yang kondisi jalannya sering gak mulus serta bolak balik harus berhadapan dengan truk-truk besar. Untuk pilihan transportasi yang lebih nyaman sebenarnya ada kereta api dan pesawat, tapi dengan kondisi pandemi seperti saat ini saya masih belum berani naik kendaraan umum. Duh, rasanya langsung puyeng dan mual kalau ingat pandemi sampai saat ini gak menunjukkan perubahan yang lebih baik *Brb, oles-oles Mama's Choice Calming Tummy Oil buat ngilangin puyeng*

Info lebih lanjut mengenai produk Mama's Choice lainnya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hai, terimakasih sudah berkunjung. Komentar saya moderasi ya, capek cyiin ngehapusin komentar spam :D

Kalau ada pertanyaan, silahkan kirim email ke MeriskaPW@gmail.com atau Direct Message ke instagram @MeriskaPW, sekalian follow juga boleh :p