Rabu, 18 Mei 2016

Gaya Hidup Anak Kosan VS Emak-emak

Assalamu'alaikum,



Bulan Mei kali ini mungkin merupakan bulan yang paling dinanti oleh para siswa kelas 12 atau 3 SMA di seluruh Indonesia. Pasalnya di awal Mei kemarin merupakan hari pengumuman kelulusan untuk SMA serta pengumuman hasil seleksi masuk Universitas Negeri melalui jalur undangan.


Memasuki jenjang perkuliahan sepertinya memang hal yang dinanti-nanti oleh para remaja. Gak usah pakai seragam lagi tiap hari, banyak kakak tingkat yang kece jadi kemungkinan status jomblo bakal lepas makin besar saat kuliah, dan satu lagi, buat calon mahasiswa dari luar kota, selain gelar mahasiswa, mereka juga mendapat gelar sebagai anak kosan. Waaah, tinggal jauh dari orang tua sepertinya menyenangkan, bisa belajar mandiri dan lebih bebas gak ada yang ngomelin, hehehehe.


Beda remaja yang baru lulus SMA, beda lagi dengan anak kuliahan, terutama yang sudah memasuki semester akhir dan sudah memiliki tambatan hati, bawaannya pengen nikah mulu. Tiap chat yang diomongin soal rumah tangga, apalagi kalau hubungannya udah lama, liat foto bayi lucu dikit di instagram langsung ngetag sang pujaan. Segala hal tentang berumah tangga terlihat indah dalam bayangan.

Sumber: Instagram Filosofi Mahasiswa

"Gak apa-apa kita hidup sederhana dulu, nanti kita berjuang bersama-sama sampai sukses ya?"


Hidup sederhana dan berjuang bersama pun terdengar manis ketika diucapkan. Padahal? He to the laaaaw, hellaaawww, ekspetasi tak selalu seindah kenyataan adik-adikku.


Mau ngekos, mau berumah tangga dan segala proses menuju kebiasaan baru itu gak pernah mudah. Apalagi kalau udah nyerempet ke hal berbau gaya hidup dan finansial, bawaannya pengen tinggal sama orang tua lagi, haha.


Berhubung saya pernah menjadi anak kos selama 4 tahun lebih, dari kuliah sampai kerja kantoran serta merasakan yang namanya berumah tangga setelah menikah langsung lepas dari orang tua, dari hidup berdua sama suami sampai punya anak satu, jadi pada kesempatan kali ini saya mau berbagi pengalaman tentang perbedaan gaya hidup saat menjadi anak kos serta setelah menjadi emak-emak.


PENANGGALAN VERSI
ANAK KOS VS EMAK-EMAK

Kalau udah ngomongin masalah gaya hidup dan finansial pastinya gak bisa lepas dari yang namanya penanggalan yang secara umum dibagi menjadi tiga, yaitu awal bulan, tengah bulan dan akhir bulan. Sedangkan dilihat dari kondisi keuangan seseorang, penanggalan bulan terbagi menjadi dua, yaitu tanggal muda dan tanggal tua.


Pengertian tanggal tua bagi anak kos dan emak-emak bisa berbeda lho. Tanggal tua bagi anak kos biasanya seminggu sebelum kiriman datang, sedangkan tanggal tua versi emak-emak adalah seminggu setelah gaji diterima. Iya, bagi emak-emak seperti saya, uang itu cuma bisa bertahan sekitar satu minggu doank, lepas dari itu, langsung diberlakukan gerakan pengiritan di berbagai pos pengeluaran, haha.




Uang bulanan anak kos seperti saya dulu memang gak sebanyak gaji orang kantoran, tapi kebutuhan bulanan yang harus dipenuhi juga gak secomplicated emak-emak yang udah punya anak, apalagi kalau anaknya udah mulai sekolah atau rumah tangga baru seperti saya yang tanggungan cicilan dan beli perabotan masih menumpuk. Makanya lewat awal bulan, sisa uang gajian bisa menipis drastis.


Tapi bukan berarti kebutuhan bulanan yang masih sedikit bisa membuat anak kos punya beban yang lebih ringan. Inget ya! anak kos itu rata-rata untuk makan kudu beli, kalau terus-terusan tergoda buat makan enak dan mahal, ya uang bulanan bakal berasa kayak angin lewat.


Sebagai bayangan, berikut saya rincikan kebutuhan pokok bulanan anak kos serta rumah tangga sesuai dengan pengalaman saya. Kebutuhan pokok lho ya, yang pasti harus dipenuhi tiap bulan, di luar jalan-jalan dan shopping hura-hura, padahal itu yang godaannya paling besar, haha.


Saya sengaja menambahkan kebutuhan yang terlihat sepele dan murah seperti air galon, karena, heeiii, sebagai sebuah keluarga, kebutuhan air mineral saya 4-5 kali lipat dibanding anak kosan dalam sebulan, jatuhnya jadi lumayan juga kalau ditotal.


Kosan saya dulu menetapkan sistem bayar sewa per enam bulan sekali, jadi saya udah gak pernah mikir bayar uang kosan perbulannya. SPP kuliah juga persemester, semua ditanggung orang tua, jadi aman. Tapi pernah juga merasakan menjadi anak kosan yang udah kerja, mulai deh pusing bayar sewa kosan, mau minta orang tua juga gengsi kan?


Untung gak lama setelah jadi orang kantoran, saya menikah sehingga gak perlu mikir bayar sewa kosan, biaya hidup pun ditanggung bersama suami. Tapi ternyata hidup berumah tangga pengeluarannya lebih banyak. Biasanya belanja bulanan hanya seputar perawatan tubuh, setelah berumah tangga yang namanya minyak goreng, gula, kopi, teh, sampai beras, masuk semua ke keranjang belanja. Setelah punya anak, tambah ada popok yang menjadi list pertama di catatan belanja.


Berarti lebih enak jadi anak kosan timbang berumah tangga?


Ya gak juga, dulu waktu tinggal sama orang tua, mau apa tinggal minta, makan ya tinggal makan, ke supermarket ngintilin mama, beli ini itu gak pake itung-itungan. Begitu jadi anak kos, kehidupan berubah 180 derajat, uang itu masalah sensitif banget, beli baju apa beli sepatu dulu? Ngafe apa ngewarteg? Bayar fotokopian atau isi pulsa? Semua dipikirin, uang sekian pokoknya harus cukup buat sebulan. Apalagi godaan anak kuliahan itu banyak beneerr deh, abis ngampus eh kok diajak ngemall sama temen-temen, niat ngerjain tugas lha kok dijemput buat ngafe, jadwal weekend buat nyuci baju tiba-tiba disamperin gengs buat ngetrip ke tempat hits, uang lagi uang lagi. Akhir bulan pun jadi gigit jari.


SIKLUS HIDUP ANAK KOSAN

Secara penampilan kalau anak kosan mah, tanggal tua atau muda, begitu keluar kosan tetep wajib tampil kece, gengsi sama gebetan donk ah kalau ngeliat wajah kucel penuh penderitaan gara-gara gak ada duit. Pokoknya dulu waktu masih ngekos, gengsi nomer  wahid buat saya. Kepergok sama temen kosan lagi makan malam pake mie instan aja, ngakunya lagi gak nafsu makan nasi, pengennya makan mie, padahal mah emang lagi kere, hahaha.


Nah itu lah, anak kosan, bakal ketauan banget kalau sedang dilanda krisis ekonomi dari apa yang dikonsumsinya.


Kalau tanggal muda pesen minum yang judulnya ada blended blendednya, minimal jus buahlah. Tengah bulan, turun derajat kalau gak es teh ya es jeruk, memasuki tanggal tua, tiba-tiba berubah menjadi aktivis gerakan hidup sehat, kemana-mana bawa botol minum air mineral kalau perlu yang bisa diisi ulang.


Tanggal muda, malem minggu nongkrong di cafe yang instagenic, pesen makan yang namanya bikin lidah kesleo. Makan pun bisa 3 kali sehari, semuanya delivery. Memasuki tengah bulan, tongkrongan pindah ke mall, itu pun cuma keluar modal beli es teh merk franchise lima ribuan, terus masuk ke butik demi butik, nyobain baju, selfie di ruang ganti, kemudian gak jadi beli. Begitu tanggal tua, hidayah seolah-olah datang tiba-tiba, tempat tongkrongan berubah haluan jadi ke perpustakaan, ngafe? Teteup lah, cuma lewat depannya doank tapi, haha.


Soal isi perut, yang tadinya warung 200 meter dari kosan aja pake delivery, di tanggal tua jadi giat olah raga, jalan kaki menyusuri gang demi gang, bergerilya mencari warung yang bebas ambil nasi sepuasnya, dibungkus, sampai kosan dibagi untuk makan dua kali.


Untungnya sih di kosan saya ada fasilitas wifi, jadi biar pun lagi bokek tetep bisa menjaga eksistensi diri di kancah dunia maya. Pokoknya kalau tanggal tua, kamar adalah senyaman-nyamannya tempat tongkrongan.


SIKLUS HIDUP EMAK-EMAK

Bagi emak-emak seperti saya, tanggal tua itu udah seperti wabah penyakit. Ketika tanggal tua datang, tiba-tiba secara bersamaan pula berbagai jenis penyakit menerpa. Mulai dari meriang, sakit kepala, sakit gigi sampai sesak napas.


Semua itu penyebabnya tak lain dan tak bukan karena kebanyakan mikirin keuangan yang mulai menipis tapi kebutuhan hidup gak juga berkurang. Mulai dari popok anak habis, beras tinggal sekali masak, bahan makanan kosong, sampai ditagih iuran keamanan perumahan.



Kepala rasanya nyut-nyutan, kalkulator sampai jebol dipakai untuk ngitung strategi keuangan. Hidup pun terasa tak bergairah, boro-boro mau dandan, mau masak aja jadi ribet, masak menu A, salah satu bahannya gak ada, ganti masak ke menu B, eh bumbu utamanya habis. Makan nasi sama garem aja udah! Eh stock beras juga udah menipis. 


Istri wajib berpenampilan menarik di depan suami?? BODO AMAT! hahaha



Jauh beda saat tanggal muda, jalan-jalan ke mall bareng keluarga, gak usah masak, makan di resto aja. Pulang ke rumah, tangan rasanya pegel karena nenteng berkantong-kantong belanjaan.


Buka kulkas isinya buah-buahan, dari vitamin A sampe K, masak tiga kali menu berbeda, ada protein hewani semua, ditambah buat cemilan dua kali, mau toping coklat apa green tea. Akhir minggu jalan-jalan lagi, muka mulai kusam ya ke salon, perawatan. Sampai akhirnya diingatkan bahwa waktunya untuk bayar cicilan.


Hai, tanggal tua! Hasil perawatan di tanggal muda pun mulai sirna, hari-hari cuma menyesali hura-hura saat baru terima gaji, tapi bulan depan ya diulangi lagi, haha.


Yaaah, begitulah dinamika kehidupan, ada waktunya seneng-seneng, ada waktunya pengen seneng-seneng tapi keadaan lagi susah. Dari pengalaman saya selama menjadi anak kos dan emak-emak saat ini, bisa ditarik benang merah bahwa biar pun beda status, beda isi dompet, tapi baik anak kos, maupun emak-emak, sama-sama sering merasakan susahnya bertahan hidup di tanggal tua.


Gimana adik-adikku, masih semangat buat jadi anak kosan atau masih pengen cepet-cepet berumah tangga?


Masih donk ya?? Postingan saya ini bukan buat menakut-nakuti kok, namanya mau mandiri kan bagus, asal diimbangi juga dengan persiapan yang matang. Tanggal tua itu pasti, tapi kehabisan uang itu pilihan.


Sedikit tips untuk meminimalisir derita di tanggal tua dari saya, bersenang-senanglah secukupnya, belanja seperlunya, dan cari promo diskonan sebanyak-banyaknya, hehehe.


Serius deh, promo diskon itu penyelamat kehidupan banget, apalagi kalau promonya saat tangal tua, bagaikan oase di tengah padang gersang. Lihat aja nih, kisah Budi yang berhasil lepas dari jeratan derita di tanggal tua.





Kalau liat video #jadilahsepertiBudi tersebut, saya merasa agak mirip sama kisah saya saat jadi anak kosan dulu, bedanya saya lebih beruntung, gak semengenaskan Budi yang bisa pede banget ke kafe cuma pesen es batu, haha. Budi aja yang kisah tanggal tuanya ngenes banget bisa terselamatkan berkat promo Tanggal Tua Surprise dari Matahari Mall, apalagi kita, pasti bisa bangetlah lepas dari derita tanggal tua seperti Budi.


Ngomong-ngomong, udah masuk akhir bulan nih! Yuk, cyiin, berburu diskonan di Matahari Mall.





29 komentar:

  1. Dari sekian artikel tentang lomba ini, aku punyak firasat ini yang bakal menang, haseeeeg

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan ngomong gitu ntar kebalikannya, huahuahuaa.. deadlinenya masih beberapa hari lagi, jawara jawara pada belum turun gunung,, haha, tapi Aamiin, semoga firasatmu benar, :D

      Hapus
  2. waaaaaw lengkap sekali mak, grafiknya pun jitu :))

    goodluck ya mak ^_^

    BalasHapus
  3. Wow! kreatif. Sampe ada siklus gambar dan grafiknya. Good Luck ya!

    BalasHapus
  4. sumpah yo aku ngakak ngakak moco tulisanmu meeerrr semoga menang ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pernah ngalamin juga ye? Haha :p Aamiin, mana postingannya mbak anin? Katanya mau ikut juga.. ntar tak komen balik, wkwk

      Hapus
  5. Bagus nyeritainnya nih, lucu kocak haha

    BalasHapus
  6. Wow, perbedaan nya drastis banget ya mba, saya juga ikutan loh, cek yuk di blog saya. Semoga sukses untuk kita... Aaamiiin

    BalasHapus
  7. wkwkwkwk kocaak kocaak...
    jd gimana mendingan jadi anak kos apa jadi emak2 nih....?
    *kompor!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mending jadi nyonyah.. kipas kipas duit.. haha

      Hapus
  8. waah...kok masih ada koyok ituuu...

    BalasHapus
  9. Ahi hi hi ada ada saja nih mbak perbandingannya sangat menghibur sekali ahi hi hi. Tapi ternyata masih jauh unggul anak kost ya mbak tapi kan kebutuhannya juga beda kalau emak emak mah atuh.

    BalasHapus
  10. wakakakakakak kasuan tanggal tuanya tuh ampe pakai koyo segala macam... hem beda dengan saya ya.. kalau saya tanggal muda masul angin minu, antangin.. kalau tanggal tua minta kerokan xixixixixi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masuk angin itu biasanya penyakit tanggal tua lho.. :p

      Hapus
  11. Waaaa menaaaang ;D Gayamu pas nyambut suami tanggal tua jaaaan ;p bikin ngakak :D

    BalasHapus
  12. Bacanya sambil mesam-mesem.
    Semoga menang mba.

    BalasHapus
  13. wahahahahaah lucu tenan iki. terutama yang tampil menarik untuk suami? bodo amat. wkkwkwk. good luck lombanya mba, saya menikmati baca artikel ini nih.

    BalasHapus
  14. lucuuu yang pake koyoo maak XD
    aku juga ikutan lomba inii, semoga sama-sama menang yaa :D

    BalasHapus
  15. misteri tanggal tua. semua orang pasti akan mengalaminya :D

    BalasHapus
  16. Huahhakak aku ngakak mbak, berati enk jadi anak dirumah aja ya gak ngekos *ngelusdada* *akhirnyakugakngekos*

    BalasHapus
  17. Mama meme emang kece badai tak tertandingi dah

    BalasHapus
  18. Mama meme emang kece badai tak tertandingi dah

    BalasHapus
  19. Hahahaha kak meriskaaaa hahaha
    ngakak akuu liat nya yang foto mu pake tempelan koyo ituu hahaa
    bisa aja

    eh ternyata emak emak bisa lebih bokek daripada anak kos yaaa..

    BalasHapus
  20. hahahha saya ketawa lepas liat fotonya kak.... susah juga jadi emak2 ya kalo akhir bulan...itu yg ditempel dijidat double tip apa koyo ya ??

    BalasHapus

Hai, terimakasih sudah berkunjung. Komentar boleh, Nyepam jangan, :)