Selasa, 08 Desember 2015

House of Juminten, Malang, Cafe yang batal jadi versi KW

Assalamu'alaikum,




House of juminten, terdengar familiar gak sih? Buat yang pernah ke Jogja gitu? Langsung ke inget sama salah satu cafe yang terkenal di Jogja gak? Itu lhooo house of raminten.


House juminten ini awal dibuka dulu memang mengambil konsep dari house of raminten di jogja yang merupakan cafe plus butik dan galeri seni Istilah kerennya terinspirasi, yaah anggaplah versi KWnya di Malang, heheh.


Seiring perjalanan waktu, cafe yang berlokasi di belakang Bank BCA Basuki Rahmat ini sempat mengalami perombakan dan perubahan konsep. Bangunan berlantai dua ini dibuat jadi lebih luas. Dan interior etniknya lebih diperkuat. Boutiqenya ditiadakan, tapi galeri lukisan di basement masih dipertahankan.

Dulu lantai atasnya cuma ruangan ini doank, sampai akhirnya sekarang diperluas sampai ke belakang

House of juminten ini adalah salah satu cafe favorit saya saat kuliah dan masih kerja dulu karena harga menunya murah dan di lantai atasnya ada beberapa sofa yang nyaman buat leyeh-leyeh manja melepas lelah setelah pulang kerja.


Saking seringnya ke sini, saya dan suami sampai sering lho duduk di meja sebelahnya para owner yang lagi rapat untuk ngerombak house of juminten ini, kita suka nguping gitu, ini cafe mau diapain sih, haha.


Saat sedang dalam masa renovasi, house of juminten sempat tutup dalam waktu cukup lama dan buka lagi saat saya hamil gede. Langsung meluncur ke sana demi mengobati kangen.


Sempet kecewa sih, karena sofa favorit kita udah gak ada berganti sofa baru dengan model hampir serupa tapi lebih nyaman yang lama deh.




Menunya sih, gak terlalu banyak yang berubah kecuali harganya yang jadi lebih mahal.


Soal rasa pun masih tetep enak seperti dulu, menurut lidah saya, makanan di house of juminten itu enak-enak semua, gak ada yang gak enak. Paling favorit, menu ayam goreng atau bakarnya, so tasty and yummy.




Tapi sayangnya, untuk minumannya agak kurang sreg di hati, udah nyobain minuman yang judulnya aneh-aneh tapi ternyata rasanya juga gak kalah anehnya juga. Paling bener pesen minuman tradisionalnya aja kaya beras kencur, kopi tubruk, dan teh hangat. Mungkin karena mengusung menu tradisional kali ya jadi untuk hidangan modern masih kurang rasanya.

Greentea float, lumayanlah, tapi masih agak kemanisan di saya

Nama pun udah jatuh cintrong, sampai punya anak pun saya masih suka nyambangin house of juminten, enak sih tempatnya, luas dan gak terlalu ramai. Tapi ya itu, tiap ke sana harga menunya naik terus, buku menunya sejak pertama dibuka udah ganti berapa kali tuh. Tenang aja, harganya masih standar cafe di Malang kok, gak terlalu mencekik, apalagi untuk rasa yang bikin lidah bergoyang, it's worth every rupiah.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Hai, terimakasih sudah berkunjung. Komentar boleh, Nyepam jangan, :)