Jumat, 13 November 2015

Review BPJS Kesehatan

Assalamu'alaikum,

Postingan ini murni pengalaman pribadi saya dan keluarga, diambil dari kisah nyata dan gak mengada-ada. Kebetulan kemaren kan memperingati hari kesehatan nasional, pas lah kalau saya bahas BPJS ya? (disambung-sambungin, iki blog uopoo toh?)




Entah kenapa sering banget membaca artikel betapa buruknya BPJS bahkan sampai ada yang sedih banget gitu karena harus punya kartu BPJS karena kewajiban dari perusahaannya untuk memiliki kartu kesehatan satu ini, padahal yang bayarin juga perusahaan bukan dia. Kalau jijik makenya malah bagus, iuran yang situ bayar untuk fasilitas BPJS bisa disubsidi silang ke pengguna yang lebih membutuhkan.


Postingan ini juga bukan karena saya pro jokowi, anti prabowo, fanatik endesbre endesbre karena itu gak ada hubungannya sama sekali.



Kantor suami saya menjamin pegawai beserta anak istrinya (kalau pegawainya perempuan gak tau ya gimana kebijakannya) untuk mendapatkan asuransi kesehatan dari BPJS kelas 1. Alhamdulillah donk karena gak usah mikir bayar iuran tiap bulan, mau dipake apa gak urusan nanti.


Sekitar 3-4 tahun lalu atau sebelum menikah dengan suami ayah dan ibu mertua di saat hampir bersamaan jatuh sakit, setelah diperiksakan ke dokter spesialis ternama di Malang, hasil diagnosa dokter mengatakan ayah terkena penyakit jantung karena kelebihan cairan ditubuh sedangkan ibu mertua terkena penyakit paru-paru ada flek.


Singkat cerita setelah berobat ke dokter tersebut akhirnya kesehatan ayah dan ibu mertua pulih. Beberapa kali sempat jatuh sakit tapi gak separah dulu sampai awal tahun 2015 lalu, kondisi ibu mertua tiba-tiba drop, dua kali dibawa ke dokter tidak ada perubahan malah semakin drop.


Lalu keluarga pun memutuskan untuk mengurus kartu BPJS untuk ayah dan ibu, diskusi pembuatan kartu BPJS ini agak alot karena adik ipar paling bontot tidak setuju karena kata kenalan dekatnya, kartu BPJS itu percuma dan gak ada gunanya, sama saja dengan gak punya kartu. Malah rugi buat bayar iuran tiap bulannya.


Tapi ya namanya adik paling bontot, kalah suara sama 4 kakaknya, haha. Kalau kata suami sih, mungkin BPJS belum kerasa buat yang masih muda tapi buat orang tua yang sudah sepuh dan sering sakit pasti akan lebih berguna.


Lalu diurus jugalah kartu BPJS untuk mertua, tapiii terhambat karena syarat mengurus BPJS adalah semua orang yang ada di kartu keluarga juga wajib membuat kartu BPJS. Masalahnya adik ipar alias anak ke tiga mertua yg tinggal di cilacap belum mengurus surat pindah jadi namanya masih tercatat di kartu keluarga mertua. Ditundalah pembuatan kartu BPJS mertua karena menunggu adik ipar datang ke Malang.


BPJS belum dibuat, ibu mertua jatuh sakit sampai harus opname di sebuah rumah sakit swasta tempat dokter spesialis tadi praktek. Akhirnya adik ipar cilacap langsung pulang ke Malang dan langsung mengurus surat pindah del el el.


Gak sampai satu minggu di rawat di rumah sakit swasta tersebut, biaya yang harus dikeluarkan sebesar 5 juta untuk kamar kelas 3 yang kondisinya, pheeewh, ya begitulah, umumnya kamar kelas 3 di indonesia lah ya. Bonus perawat yang judes, suami pernah dijudesin gara-gara nanya apa gitu, haha.


Keluar dari rumah sakit kondisi bumer ternyata belum pulih juga, obat yang diberi gak mempan. Satu atau dua minggu setelah itu, kartu BPJS mertua selesai dibuat. Yang pertama mencoba adalah ayah mertua, oleh dokter puskesmas diberi rujukan untuk ke dokter spesialis jantung yang katanya terkenal di Malang dan praktek di sebuah RS swasta sebut saja RSY (bukan RS tempat bumer diopname).


Tak disangka, check up pertama kali ayah mertua langsung disuruh opname. Ayah dirawat di ruang kelas 1 yang kondisinya kaya ruangan di sinetron pas syuting, bagus! Di foto pun hasilnya keren dan layak upload, tapi ya keleus orang sakit di foto-foto.


Perawatnya pun ramah meskipun ayah pasien BPJS, ayah yang anti sama dokter dan sejenisnya sampe betah lho di RS, kesehatannya pun membaik.


Dua hari berselang, ibu mertua pun dirujuk ke RS dan dokter yang sama karena anak-anaknya curiga bahwa penyakit bumer saat ini juga seputar jantung bukan paru-paru lagi, karena hasil rontgennya, paru-paru bumer sudah bersih. Jadilah bumer dan ayah diopname sekamar berdua, so sweet!


Seminggu dirawat ayah mertua pun boleh pulang, kemudian menyusul ibu mertua di hari berikutnya. Biaya yang dikeluarkan? Seharusnya sih 10 juta lebih, tapi alhamdulillah karena BPJS jadi gratis dapet merchandise lagi berupa obat-obatan sak ndayak, buanyak bianget.


Ayah dan ibu mertua diwajibkan untuk check up setiap bulan, tapi sekitar 3 bulan setelah keluar dari RS, ayah dan ibu mertua cuma check up satu kali, habis itu bandel. Dan obatnya pun gak diminum.


Sampai akhirnya penyakit ayah kambuh lagi karena naik sepeda motor ke Batu dengan jaket tipis, dan harus diopname lagi, dua hari satu malam diopname, ayah mertua meninggal dunia.


Tentunya gak ada hubungannya dengan BPJS, karena penanganan gak becus dan blablabla, emang udah takdirnya begitu. Padahal setelah diberi penanganan kondisi ayah mertua jauh lebih baik dan bisa ceria lagi, namanya takdir siapa yang bisa menduga.


Melihat pengalaman dari ayah mertua, sekarang bumer cukup rajin check up dan minum obat. Sempat nyoba-nyoba obat alternatif saran dari sana sini malah lebih sering bikin kondisi bumer drop.


Pernah sekali, bumer terkena infeksi luka karena kebetulan bumer juga mengidap diabetes, dan seperti biasa dokter puskesmas helpfull sekali dalam memberi rekomendasi dokter yang bagus sesuai keluhan pasien.


Minus dari BPJS ini ya ngurusnya agak ribet ya kalau diurus sendiri, formulir yang harus diisi banyak. Ngurus surat rujukannya sih biasa aja, ke puskesmas terus ke dokter/RS yang dipilih.


Cuma ngurusnya kalau dokternya praktek pagi, jadi dua hari. Satu hari ke puskesmas, besoknya baru bisa ke dokter karena ngantrinya itu maksimal jam setengah 6 pagi supaya dapet nomer antrian. Cuma ya jam 9 pagi gitu udah pulang ke rumah sih biasanya, antriannya gak membludak banget, tapi emang jam praktek dokternya yang sebentar.


Tapi kalau dokternya praktek sore/malem bisa lah ngurus sehari, pagi ke puskesmas, sore ke dokter, tapi tetep aja ngambil nomer antriannya dua jam sebelumnya. Enaknya, gak harus pasien sih yang ngurus tetek bengek itu, bisa diwakili, ntar pasiennya dateng pas udah mau masuk ruang periksa.


Kalau masalah pasien gawat darurat yang gak sempet ngurus rujukan saya kurang tau ya, karena belum pernah ngalamin, denger-denger sih bisa diurus belakangan.


Masalah pelayanan buat pasien BPJS, kayaknya sih tergantung rumah sakitnya, untung-untungan, jodoh-jodohan. Buktinya kita waktu jadi pasien yang bayar malah dapet pelayanan buruk, eh di rumah sakit lain jadi pasien gratisan pelayanannya malah bagus banget.


Soal ribet, agak ribet sih emang. Kebetulan saya mantan pengguna askes karena ortu saya PNS. Kalau sakit gak perlu rujuk-rujukan, langsung aja serahin kartu askes waktu periksa. Tapi Askes kan terbatas buat kalangan tertentu ya saat itu, terus pilihan rumah sakitnya juga lebih terbatas, rata-rata ya rumah sakit umum pemerintah yang nerima askes. Kalau BPJS semua kalangan bisa punya, nah kalau gak ribet bisa-bisa rambut patah doank minta diopname ntar.


Gimana pun, namanya kebijakan emang gak bisa nyenengin semua orang. Bijak buat kita belum tentu bijak buat yang lain. Semoga pemerintahan kita bisa lebih baik, Aamiin.


Review tentang BPJS lainnya bisa dilihat di sini yah

BPJS kesehatan female daily


3 komentar:

  1. Mbak apa kartu BPJS ini hanya berlaku untuk orang-orang yang bekerja di perusahaan/karyawan kantor dinas atau bisa berlaku juga untuk masyarakat luas? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk menjadi peserta BPJS Kesehatan, semua orang bisa memperolehnya tanpa perlu terikat dinas dengan badan manapun. Syaratnya harus bayar iuran bulanan. Bila iuran itu tidak terbayar, maka keanggotaan tidak berlaku, itu saja.

      Beda dengan BPJS Ketenagakerjaan, karena namanya juga Ketenagakerjaan, maka untuk memperolehnya harus menjadi karyawan dari suatu perusahaan dulu.


      Memang bagian terburuk dari memanfaatkan BpJS Kesehatan ini harus mengantri. Sebetulnya ini bisa diakali. Caranya minta surat rujukan bukan dari Puskesmas, melainkan dari Klinik. Klinik inilah yang akan memberikan surat rujukan langsung ke rumah sakit. Pasien/masyarakat perlu tahu Klinik mana di sekitar rumah mereka yang sudah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, dan mana yang belum.

      Tentang perbedaan layanan yang dialami keluarga Meymey, sebetulnya ini sudah terjadi. Ruang rawat kelas 3 selalu kurang fasilitasnya daripada kelas 1. Bahkan meskipun memakai BPJS Kesehatan pun, pelayanan untuk ruang kelas 3 tetap kurang daripada kelas 1. Karena dana untuk mengelola kelas 3 juga lebih sedikit daripada dana untuk mengelola kelas 1, kan?

      Dan semua orang kelas pekerja jelas lebih suka melayani konsumen kelas 1 daripada kelas 3, entah itu pakai asuransi atau tidak. Tukang sapu saja lebih suka mengepel lantai kelas 1. Apalagi suster, pasti senyumnya lebih manis di kelas 1 daripada kelas 3.

      Memang kalau dilihat dari kepuasan masyarakat, penggemar BPJS Kesehatan lebih banyak dari kalangan lansia daripada kalangan muda. Karena yang lebih banyak terserang sakit dan butuh obat itu lansia. Seorang lansia lebih rentan kena sakit jantung dan bronkitis (seperti yang dialami mertua Meymey), dan sekali didiagnosis begitu, mereka harus minum obat yang sama mungkin untuk seumur hidup. Karena itu BPJS Kesehatan menjadi pilihan rasional untuk lansia yang segan membayari obat-obatan mereka sendiri. Tetapi untuk kaum muda, BpJS Kesehatan mungkin tidak terlalu diminati karena mereka sendiri toh jarang yang punya penyakit rutin, jadi juga jarang perlu beli obat, dan akibatnya juga jarang perlu dibayari obat. Kecuali kalau mereka punya tingkat kewaspadaan tinggi, merasa bisa kena penyakit setiap saat, maka baru mereka merasa perlu menjadi anggota BPJS Kesehatan.

      Hapus

Hai, terimakasih sudah berkunjung. Komentar boleh, Nyepam jangan, :)