Minggu, 06 September 2015

Wisata Petik Madu Lawang

Assalamu'alaikum,

Kapan bulan (udah hampir 4 bulan yang lalu ke sininya, hha), waktu mau ke surabaya naik bus, gak sengaja saya melihat sebuah tempat di belakang kompleks ruko yang terlihat asri dengan bunga-bungaaa berwarna kuning.


Lalu saat ke agrowisata kebun teh, kita melewati tempat yang saya lihat kapan hari, dan ternyata adalah wisata petik madu. Langsung deh masukkin ke daftar list jalan-jalan akhir minggu. Dan beneran aja minggu depannya kita jalan-jalan ke sini.





Lokasi wisata petik madu ada di jalan raya lawang, sekitar 1 km sebelum pasar lawang. Kalau dari arah Malang, tempat ini
berada di kiri jalan, berada di belakang sebuah kompleks ruko.
Gak jauh dari wisata petik madu, ada juga peternakan tawon rimba raya yang sepertinya masih satu kepemilikan melihat merk madu yang dijual sama. Apalagi wisata petik madu ini masih terbilang baru dilihat dari bangunannya yang belum sepenuhnya jadi semua. Sepertinya lagi wisata petik madu dikhususkan untuk masyarakat umum yang penisirin untuk mengenal seluk beluk tentang lebah dan madu lebih dalam sedangkan peternakan tawon rimba raya dikhususkan untuk peternakan tawon yang memproduksi madu dengan brand mereka sendiri, iya sepertinyaaa, gak tau juga tepatnya wong bukan saya yang punya, kekeke.


Memasuki lokasi wisata petik madu, kita akan disambut bunga-bunga berwarna kuning (gak tau bunga apa) yang tumbuh dengan rimbun dan terlihat cantik dari jauh, soalnya begitu didekati ternyata bunga-bunga itu kesannya gak terawat dan dibiarkan liar. Mana banyak nyamuk, becek, gak ada ojek,, iya saya emang jayus! -__-




Masuk lebih dalam, kita akan melihat parkiran yang luas, sebuah bangunan, semi terbuka, gazebo-gazebo, dan bangunan-bangunan permanen yang terletak di atas lahan parkir. Iya tempat ini memiliki elevasi yang naik turun dan bermepetan (halah!) dengan perbukitan. Bangunan permanen tersebut berupa bangunan seperti sekolahan yang memiliki deretan ruang yang masih kosong. Yah namanya juga masih baru jadi pembangunannya belum merata (pemerintah kali ah!)



Waktu kita ke sana, wisata petik madu ini lebih berkonsep rumah makan yang disisipi wisata edukasi tentang madu dan lebah. Bukan wisata edukasi yang dilengkapi dengan fasilitas food centre, karena lebih luas rumah makannya timbang wisatanya, countre wisatanya cuma sak crit sak crit. Sekali lagi mungkin karena tempatnya masih baru!


Di sini kita bisa berfoto dengan anggota tubuh yang dirubungi lebah, mencoba menikmati madu dengan sarangnya, dan membuat cetakan jari/tangan kita dari parafin yang dihasilkan lebah (iya gak sih? Yg jelas dari parafin aja). Kita juga bisa melihat proses produksi madu tapi khusus peserta rombongan dan sudah reservasi.


Dari kesemua itu yang kita cobain cuma bikin cetakan jari, karenaaa gratis, hakhakhak. Jadi kalau bikin cetakan tangan bayar 5rb per tangan, nah kalau mau nyoba jari dulu gratis. Ya udah kita coba dulu yang gratisan, heuheu. Jadi tangan kita dimasukin ke parafin yang (katanya) bersuhu hangat terus langsung dimasukkin ke air dingin supaya parafin mengeras dan copot dari jari/tangan kita. Pas saya nyobain, alamak, parafinnya itu panaaas. Itu baru satu jari, gimana klau tangan, udah deh cukup sampai di situ aja.



Kita gak nyoba yang dikerubungi lebah, soalnya antrinya banyak dan lihat orang dikerubungi gitu seketika jadi jiper, ngeri euy! Hha. Tapi akhirnya nyesel deh, karena andalan wisata di sana kan ya foto dikerubungi lebah ituu. Dan kita juga gak nyoba tester madu dan sarangnya karena mahaalll. Kita harus membayar 10.000 buat sepotong kecil sarang lebah, gak kecil sih tapi kueciiiilll. Gak deh, lagian waktu papa saya kerja di sumbawa, saya udah pernah ngerasain makan madu langsung dari sarangnya dengan ukuran buesar dan gratis, sarangnya juga sarang alami yang ditemukan di pohon bukan hasil budidaya.


Jadi kita di sana cuma menikmati suasana di sekitar wisata petik madu yang terbilang cukup asri sambil menyantap makanan pesanan kita. Makanan yang dijual di sana gak begitu variatif dan gak mengusung menu seputar madu dan lebah, sayang sekali..!

Kita pesan, nasi udang, nasi bebek, teh hangat, dan es kunir asem. Suprisingly, rasa makanannya enak banget, terutama udangnya. Bumbunya benar-benar kerasa. Wownya lagi harga makanannya sangat murah untuk ukuran rumah makan. Kalau gak salah nasi udang dihargai 8ribu per porsi sedangkan nasi bebek hanya 10rb per porsi. Good deal kaan? Boleh lah buat ampir-ampiran kalau mau ke surabaya dari malang.



Saat itu kita memilih tempat di gazebo yang bersebelahan dengan sawah dan sungai kecil gitu. Suasananya enak banget dah, tapiiiii banyak ABG asli kampung sekitar yang nongkrong juga di sana. Jadi diantara sekian gazebo itu yang kosong cuma beberapa, tapi yang beneran beli kayaknya cuma 3-4 gazebo termasuk kita.



Maklum aja karena tiket masuknya gratis, jadi malah dijadikan tempat nongkrong gratisan sama anak2 yang pulang apa bolos sekolah gitu. Pelayan di sana juga gak ada ngelarang atau ngusir sih. Mereka gak ganggu sih, tapi bikin males aja, bikin rame dengan kakakannya (bahasa apa ini) sama banyak yang ngerokok itu lho. Doh berasa nongkrong di jembatan tengah sawah di kampung dah! (Orang dari desa kaya saya pasti ngerti, huehue)





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Hai, terimakasih sudah berkunjung. Komentar boleh, Nyepam jangan, :)