Kamis, 01 Oktober 2015

Berwisata di kota Pasuruan




Assalamu'alaikum,

Taman safari II, kebun raya purwodadi, agrowisata bhakti alam, bukit flora, taman dayu bahkan Bromo, semuanya berlokasi di Pasuruan. Banyak ya wisata di Pasuruan? Tapi sayangnya semuanya masuk wilayah Kabupaten Pasuruan. Kalau kota Pasuruannya? Hampir gak ada tempat wisatanya. Kasiaaan.

Baca juga:
warung doen purwodadi, pasuruan
 Kaliandra sejati eco resort, prigen, trawas, pasuruan


Tapi jangan salah, mengunjungi pusat kota Pasuruan pun ternyata bisa menyenangkan juga kok.


Hari sabtu, kami diutus ibu mertua untuk menghadiri acara di kampung halaman ibu di Pasuruan, tepatnya di desa dawe sari kabupaten Pasuruan. Biasanya kalau ke dawe, kita lewat jalan alternatif gak lewat kota. Jadi mumpung cuma kita bertiga, saya, suami, dan alif yang berangkat sekalian aja kita manfaatkan untuk jalan-jalan ke kota Pasuruan.


Buat yang lagi atau bakal ngunjungin kota Pasuruan, itinerary kita saat itu boleh dicoba.




Jalan-jalan ke kota tua

Kota pasuruan ternyata punya kawasan kota tua yang bersih dengan bangunan yang kondisinya masih bagus dan terawat.


Bangunan yang paling terkenal adalah rumah singa di jalan hasanudin, no, no, no, maksudnya bukan rumahnya singa tapi sebuah rumah mewah khas jaman kolonial yang memiliki dua buah patung singa di halaman rumahnya. Setau saya rumah singa sekarang sudah ditetapkan menjadi bangunan cagar budaya.


Sayangnya kita gak bisa masuk ke rumahnya bahkan minimal ke halaman rumah sekalipun, karena pintu gerbangnya ditutup, hikz. Coba dibuka buat umum ya, mayan kan buat nambah anggaran daerah, mayan juga buat yang suka narsis kaya saya, wkwk.





Di seberang rumah singa ada gedung pancasila yang juga masuk bangunan cagar budaya, meskipun bangunannya gak se-wah rumah singa tapi bangunannya masih terlihat kokoh.


Ada juga beberapa bangunan cantik khas jaman kolonial lainnya di sekitaran jalan hasanudin, tapi jalan hasanudin yang paling ujung yang dekat dengan alun-alun kota pasuruan. Sisi lain jalan ini hanya perkampungan penduduk biasa.


Di dekat jalan hasanudin, ada sebuah klenteng di jalan lombok dengan warna dindingnya yang terlihat paling mencolok di tengah deretan bangunan jadul yang kebanyakan dindingnya sudah mulai kusam. Namanya klenteng tjoe tik kiong.

Gerbang masuk klenteng tjoe tik kiong


Klentengnya gak begitu besar tapi memiliki halaman parkir yang cukup luas, selain itu tiap sudutnya terlihat sangat terawat dan bersih. Kalau mau keliling kota tua bisa parkir kendaraan di sini, asal ijin dulu sama securitynya. Saat itu kita cuma diperbolehkan masuk sampai halaman parkirnya saja, karena di klenteng sedang ada acara.

Luas kan parkirannya?


Lokasi kota tua ini gak jauh dari alun-alun kota pasuruan, sayangnya waktu itu kita gak sempat jalan kaki di seputaran alun-alun dan kota tua, semua kita nikmati dari dalam mobil saja, karena kita datang kesiangan dan cuacanya lagi hawt hawt pop. Kapan-kapan pengen deh pagi-pagi jalan kaki di menikmati keindahan arsitektur kota lama pasuruan.

Masjid di alun-alun kota pasuruan, ngambil foto dari mobil dan pak suami gak denger pas saya suruh ngelambatin mobilnya, jadinya gini deh fotonya, huft

Saya terkesan deh sama kota Pasuruan dengan kebersihannya yang patut diacungi jempol. Cumaaan yang bikin males itu adalah anak jalanan di lampu merah, nakutin.


Maksa-maksa gitu, terus kalau di Malang paling anjalnya cuma ngamen apa minta-minta, di Pasuruan ketambahan sama pembersih kaca.


Kebetulan mobil mertua yang kita pakai itu ACnya rusak, jadi otomatis kudu buka jendela supaya bisa menikmati angin cepoy-cepoy. Kebetulan lagi saya dan alif lagi duduk di belakang karena tadinya saya mau motoin bangunan tua dari mobil. Kebetulan ke tiga, saya pas lagi nyusuin alif, lalu tiba-tiba ada anjal yang dateng tanpa babibu langsung bersihin kaca pakai sapu bulu, habis itu ngelongok ke jendela.


Gak lama kemudian ada anjal lainnya yang dateng bawa sapu bulu juga, tapi gak bersihin kaca langsung maksa minta uang.


"Umi, 500 aja mi, 500 aja lho", lah dia pikir saya elvi sukaesih, umak umik. Habis itu ada lagi pedagang asongan yang dateng, intinya satu dikasi yang lain langsung nyerbu.


Untungnya habis itu lampu lalinnya berubah jadi hijau, jadi kita bisa kabur. Kejadian serupa juga terjadi di lampu merah lain, suami gak ngasi uang langsung dimaki-maki. Habis itu kaca jendelanya sebisa mungkin gak dibuka terlalu lebar. Trauma cyiin.


Padahal di setiap lampu merah ada larangan resmi dari pemerintah untuk gak memberi uang pada pengamen, pengemis, pembersih kaca dll. Tapi ya kalau maksa-maksa gitu kan syerem ya?


Pelabuhan kota Pasuruan

Dari kawasan kota tua, kita melipir ke pelabuhan kota pasuruan. Ini hasil iseng sih ngikutin papan penunjuk jalan, karena frustasi nyari roti matahari yang tersohor itu gak ketemu-ketemu, mana koneksi interner provider tiga gak nyampe di pasuruan, huah. Orang yang ditanyain juga gak jelas ngasi petunjuknya.


Ternyata lokasi pelabuhan kota pasuruan deket banget dari alun-alun, gak sampai 5 menit juga sampai kalau pakai kendaraan.


Di sekitar pelabuhan juga banyak bangunan tuanya, tapi dalam bentuk gudang gitu. Bukan rumah mewah seperti sebelumnya, yaaah namanya aja pelabuhan, hehe.


Pelabuhan kota pasuruan ini penampakan aslinya itu seperti muara sungai yang dipakai untuk kapal bersandar. Di salah satu sisinya berjejer gudang barang dan jalan pelabuhan yang di aspal mulus, ada trotoar juga untuk pejalan kaki. Semua menunjukkan bahwa kondisi pelabuhan ini cukup terawat. Sedangkan Di sisi lain sungai adalah perkampungan padat penduduk.

Alif belajar mengenal perahu, karena airnya lagi surut jadi banyak kepiting bermunculan, alif juga jadi mengenal penampakan kepiting sesungguhnya, hhe


Dari pelabuhan kita gak bisa melihat laut karena ketutup semak-semak dan jalan pelabuhannya cuma sampai dermaga. Kalau mau lihat pantai kayaknya kudu jalan mblusuk-mblusuk dulu.

Di belakang saya itu udah dermaga, hati-hati buat yang naik mobil, jangan kaya kita hampir kelolosan karena dipikir masih jalan biasa, gak lucu kan mobilnya jadi nyemplung ke sungai


Sangat disayangkan kondisi sungainya ini agak kotor, kita sempat melihat langsung warga sana dengan santainya membuang sekantong plastik berisi sampah, ckckck. Tapi untungnya ketutup sama pemandangan warna warni kapal yang bersandar, jadi mayan kelihatan we-o-we.

Kelihatan kan tuh sampah pada kumpul di deket perahu

Perahu yg bersandar di dekat dermaga


Kondisi pelabuhannya sendiri malah bersih lho, dan saat kita dateng terlihat lengang. Bagus buat foto-foto, wkwk tujuan utama.


Danau Ranu Grati

Danau ranu grati atau juga dikenal dengan ranu klindungan merupakan danau alami yang terbentuk akibat letusan gunung berapi. Danau yang sempet bikin heboh karena menenggelamkan tank amfibi beserta awaknya saat latihan di ranu grati ini sebenarnya udah masuk wilayah kabupaten pasuruan. Tapi lokasinya cukup dekat kok dari pusat kota pasuruan, sekitar 15 menit, kayaknya gak sampai deh.

Udah kaya foto di kalender-kalender belum? Kekeke


Ranu grati berada di dekat jalur pasuruan-probolinggo, agak masuk ke dalam kampung gitu sekitar 500 meter dari jalan raya. Dan kampung yang berada di sekitar ranu tak lain dan tak bukan adalah kampung halaman ibu mertua saya, hehe.


Dari kampung ibu mertua ke ranu deket banget, jalan kaki juga bisa. Saya udah dua kali ke sini, pertama lewat loket resminya dan membayar 2000 saja perorang sedangkan yang ke dua, lewat kampung gitu. Grateees.


Tapi yang ke dua ke sini gak sempet foto-foto, hikz. Menurut saya pemandangan danau lebih bagus kalau dari kampung penduduk timbang loket resminya.




Kalau lewat loket resmi kondisi danau agak memprihatinkan, butek dan banyak sampah. Terus banyak keramba gitu, tapi buat yang punya kamera bagus, kerambanya malah bikin hasil foto terlihat eksotik, halah.

Keramba di ranu grati


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Hai, terimakasih sudah berkunjung. Komentar boleh, Nyepam jangan, :)